23 Ogos, 2010

Sara Phang dan Balqis Elaine: Demi Islam, Sanggup Dihalau Dari Rumah



Sara Phang (kiri) dan Elaine Balqis ketika menceritakan pengalaman memeluk Islam.

KUALA LUMPUR (voa-islam.com) – Ketika hidayah datang, tak satupun orang yang sanggup merintanginya. Godaan duniawi tidak mampu  mengeluarkan iman para muallaf yang sudah tertanam iman dan Islam di dadanya. Setelah menemukan hidayah Ilahi, dua gadis, Siti Sara Phang Abdullah dan Nur Balqis Elaine teguh dalam Islam. Imannya tak goyah, meski dengan ujian yang berat hingga terusir dari rumah Di bulan Ramadan ini, kedua muallaf belia ini sangat bersemangat menjalani puasa.

Berpakaian sederhana, kedua gadis belia ini muncul di tengah khalayak di Perkim dalam acara buka puasa untuk para muallaf. Acara itu diselenggarakan oleh sebuah organisasi kesejahteraan Islam yang didirikan untuk membantu para muallaf supaya dapat membiasakan diri dengan kehidupan baru mereka sebagai Muslim.

Dibesarkan dalam keluarga Kristian Protestan, awalnya Sara Phang terpesona oleh budaya Islam. Gadis berusia 19 tahun ini terpikat dengan busana muslimah seperti jilbab. Sara juga mengagumi aktiviti teman-temannya yang Muslimah yang sangat beragama, di mana mereka senantiasa melantunkan doa dalam setiap aktiviti, seperti berdoa sebelum dan sesudah makan, berdoa sebelum masuk ke kamar mandi, dll.


Sara mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat pada bulan Mei, tapi baru punya keberanian untuk memberitahukan keislamannya kepada keluarganya sebulan kemudian.
Meski akrab dengan teman-teman Muslimah, Sara mengsaya tertarik Islam bukan kerana ajakan teman-temannya, tapi kerana dorongan hatinya.


”Bukan teman-temanku yang mengajak saya masuk Islam. Saya memang punya ramai teman Muslimah, tapi mereka tidak pernah berbicara tentang Islam kepada saya. Saya jatuh cinta dengan keindahan Islam sendiri,” tuturnya.

Meski baru masuk Islam, pada bulan suci Ramadhan tahun ini, Elaine memulai menjalankan kewajiban puasa yang dirasakan cukup berat menahan haus di siang hari.

”Ketika saya bangun pada waktu sahur, saya sangat senang untuk berpuasa,” kata Sara. “Kalau tahan, saya teruskan puasa sampai maghrib. Tetapi kalau saya merasakan sakit di lambung maka saya akan berbuka,” tambahnya.

Sementara Elaine, dibesarkan dalam keluarga Nasrani fanatik. Ibunya adalah seorang penganut Katolik Rome. Ia mulai mengenal Islam selama di sekolah menengah Malaysia.

”Saya punya ramai teman di sekolah Malaysia, dan hatiku telah tertarik kepada Islam. Itu adalah benar-
benar perasaan yang baru dan agung, “katanya dalam bahasa Melayu.

Sambil tersenyum, gadis 20 tahun berdarah campuran Cina dan Kenyah dari Sarawak ini menyatakan bahwa dirinya merasa jauh lebih tenang setelah memeluk Islam. Puasa Ramadan tahun ini bukan hal yang asing baginya, kerana semenjak masuk Islam, ia telah memulai “latihan puasa” di sebuah sekolah agama di Kedah. Di sekolah ini, Elaine berpuasa sunat setiap hari Isnin dan Khamis selama empat bulan.

”Perut saya yang kosong terasa agak sakit kerana kembung,” kisahnya.
Meski demikian, Elaine bangga kerana puasa membuatnya sangat bahagia, damai dan meningkatkan sikap kerendahan hati dan kesabaran.

Ujian Berat Setelah Menjadi Muallaf

Meskipun kisah rohani keislaman mereka banyak sukacita, tapi perjalanan hidup mereka tidak berjalan mulus, tapi penuh ujian berat. Sehingga Sara dan Elaine terpaksa harus mengungsi ke rumah penampungan wanita di Perkim, setelah keluarga mereka menolak keislaman mereka.

Keluarga Sara tidak setuju dengan keislamannya dan menentang keputusannya yang mengejukan. Sara yang tidak mau berpolemik dengan keluarganya, hanya menyatakan bahwa dia telah jatuh cinta kepada Islam.

“Tiba-tiba saya jatuh cinta dengan jalan Islam,” katanya singkat.
”Ayahku memperhatikan saya memiliki busana Muslimah yang longgar, buku-buku Islam dan hal-hal keagamaan lainnya, sehingga ia bertanya curiga,” jelas dia.

Saat ini, ibu dan saudara perempuannya telah menerima keputusannya masuk Islam, tetapi ayahnya justru memberikan kata dua kepadanya untuk memilih antara tinggal di rumah sebagai Kristian atau meninggalkan rumah jika menjadi seorang Muslimah.

Rupanya Allah telah menanam iman yang kuat di dadanya. Sara tak gentar,  memilih pilihan yang terakhir, sehingga harus diusir dari rumah. Kini ia tinggal di rumah penampungan bersama teman senasibnya, Elaine.

Berbeda dengan tentangan keluarga yang dialami Elaine. Meski ayahnya yang beragama Buddha telah merestui keislaman Elaine, tapi ibunya yang beragama Katolik Roma justru tidak dapat menerima kenyataan ini. Ibunya yang tinggal di Puchong tahu tentang keislamannya dari orang lain. Maka sejak Oktober tahun lalu, mereka tidak pernah berhubung dengannya sama sekali.

”Kerana sekarang saya adalah seorang muslim, maka gaya hidup saya berbeza dengan ibu saya. Jadi, lebih mudah untuk tinggal di luar saja,” tuturnya.

Elaine memaklumkan bahawaada peristiwa aneh yang dialaminya ketika mulai tertarik Islam. “Setiap kali saya mendengar azan, hati saya tergetar,” katanya dengan mata berseri-seri.

Menurutnya, Islam bukanlah agama asing bagi keluarganya. Adiknya telah masuk Islam melalui perkahwinan, sehingga saudara lelaki sudah menjadi Muslim, meski dengan pertimbangan yang berbeza.

“Islam lebih menenangkan. Saya lebih tenang sekarang,” kata Elaine.

Di rumah penampungan, Sara dan Elaine dibebaskan dari segala biaya, tapi hanya perlu membersihkan rumah setiap saat sesuai jadual. Tempat penampungan ini sebenarnya sebuah rumah teras di Gombak dengan dua kamar, yang masing-masing kamar dihuni dua anak perempuan.

Salah satu teman Sara dan  Elaine di rumah tumpangan itu adalah mahasiswi pascasarjana di Universiti Sains Malaysia(USM) yang  sedang melsayakan praktik di Perkim. Dia juga bertanggung jawab terhadap gadis-gadis itu sedangkan teman serumah lainnya berasal dari Filipina dan bekerja di Perkim.

Gadis-gadis tersebut diizinkan untuk tinggal di rumah tumpangan selama enam bulan, tetapi jika mereka tidak dapat menemukan tempat tinggal alternatif, mereka tidak akan dipaksa untuk pindah.
Peraturan di rumah penampungan ini cukup ketat. Ada juga peraturan jam malam pukul 11.00. Pukul sebelas malam mereka harus melapor kepada penanggungjawab panti mengenai keberadaan mereka.
Sara dan Elaine bertahan dengan wang saya sebanyak RM50 setiap dua bandar. Mereka akan naik bas ke Perkim setiap hari dan perjalanan memakan waktu sekitar 20 minit.

Sampai saat ini Sara dan Elaine belum mendapat kad identiti Islam dari Jabatan Agama Islam (Jawi), sijil pensyahadatan, akta kelahiran dan KTP yang baru di Putrajaya

Sumber : Malaysian insider

0 comments:

Catat Ulasan

Related Posts with Thumbnails
 
Share